Posted by: anita susanti | November 6, 2009

Segenggam rindu untuk istriku

Aku menyukai buku ini. Bukan karena pengarangnya, bukan karena banyak dalil shahihnya, bukan karena apa. Menurutku buku ini sederhana…ringan untuk dibaca, tapi bagiku buku ini syarat makna…sebagian isinya menggambarkan karakter dan keinginanku hehehe…
Segenggam rindu untuk istriku, buku karya Ustad Dwi Budiyanto…nama salah seorang ustad di Jogja. Dengan gayanya yang khas ketika mengisi kajian, ternyata tertuang juga di dalam bukunya.
Salah satu bagian yang kusuka adalah “ada canda ketika marah”.
Ingin ku ceritakan sebagian,,,
Saat itu seorang istri berpesan untuk segera pulang ketika melepas kepergian suaminya. Sang istri berniat untuk memasak menu kesukaan suaminya dan ingin makan malam bersama suaminya.
Sore itu…semua hidangan sudah disiapkan dengan tampilan semenarik mungkin. Tapi…hingga larut malam, suami yang ditunggunya tidak juga pulang. Sampai akhirnya sang istri tertidur di sofa.
Ia terbangun ketika tangan suaminya menyentuh wajahnya. Permohonan maaf suaminya ditanggapinya dengan acuh. Ia marah.
“Sudah makan, Dik?” Tanya sang suami.
“Makan aja situ sendiri!”
Sang suami tahu istrinya marah. Namun, ia tetap bersikap tenang. Ia menuju meja makan.
“Ayo makan bareng.”
“Makan aja situ sendiri!”
“Mmh, lauknya mana nih?” Tanya suami pura-pura tidak tahu.
“Cari aja situ sendiri!”
Sang suami pun makan. Tengah malam, sang istri terbangun karena perutnya melilit. Buru-buru ia menuju meja makan. Tapi…ternyata lauk yang dimasaknya tidak ada.
“Mas, telurnya mana? Kok habis!”
“Nelur aja situ sendiri!” Mereka langsung tertawa, hilanglah kemarahan…
Aku selalu tertawa membaca bagian ini. Subhanallah…jarang sekali aku mendengar suami yang mencandai istrinya ketika marah.
Aku sepakat dengan kesimpulan Beliau…Bersikap tenang, tidak melakukan blaming partner, bahkan mendahului untuk meminta maaf, atau menyisipkan canda segar di tengah-tengah kemarahan kekasih hati bukanlah hal yang mudah. Tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk melakukannya.
Terimakasih atas hikmah yang ustad sampaikan. Semoga aku bisa lebih bersabar dan mengontrol emosi setiap waktu ataupun pada saat masa-masa sensitif. Amin…

Advertisements

Responses

  1. Bagus. Sering-sering aja posting kisah-kisah serupa macam tu mbak 😉

  2. Hehehe…makasih 🙂
    Iya…InsyaAllah klo ada ide ku tulis 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: